Beternak Gurame Ternyata Sangat Untung

Pada 4 bulan yang lalu saya ditawari oleh seseorang untuk ternak gurame dengan memberikan bibit dan harga jual dintentukan oleh beliau.Pertama saya ragu untuk menjalaninya,karena beberapa pengalaman sebelumnya,saya tak pernah berhasil bila beternak gurame.

Pada saat itu beliau menawarkan dengan harga yang sangat murah yaitu Rp.250/ekor total modal sebesar rp.750.000 dengan harga panen sebesar Rp.18.000/kg.saya tidak boleh menjual hasil daging siap panen kepada orang lain dan apabila diberikan kepada orang lain ,beliau akan memberikan sangsi dengan harga yang tinggi.
Tapi sangat mengejutkan setelah 4-5 bulan tanam di satukan dengan ikan mas,hasilnya dari tanam 3000 ekor menjadi ikan siap panen sebanyak 318kg..

Tentunya harapan dapat untung banyak terwujud,karena hanya dengan 4-5 bulan tanam menghasilkan uang Rp.5.724.000 - Rp.750.000 = Rp.4.974.000(keuntungan bersih).Ternyata Untung besar hanya dengan 4 bulan dengan gurame.Apabila anda mau tanam gurame,kenapa di tunggu-tunggu......tanam sekarang

Sekedar Info Harga Gurame BIBIT ukuran korek api harga normal Rp.2000/ekor Bibit ukuran Rokok harga normal Rp. 3000-4000/ekor Harga daging gurame normal Rp. 22.000-24.000/kg




Bookmark and Share

Mengali Uang Di Kolam Air Deras

Info dari Majalah TRobos
Harga ikan mas running water berukuran 7 kg per ekor dapat mencapai Rp 350.000, hampir setara harga 45 kg ikan mas hasil budidaya di waduk Cirata! Ikan mas berukuran besar memiliki harga jual lebih tinggi dibandingkan ikan mas dengan ukuran biasa-biasa saja. Menurut H Ijam, seorang pembudidaya ikan mas di kolam air deras, di Desa Situ Daun-Bogor, harga ikan mas dengan ukuran 7 kg per ekor dapat mencapai Rp 50.000 per kg. Itu berarti 1 ekor ikan mas tersebut memiliki harga Rp 350.000 atau hampir setara dengan harga 45 kg ikan mas yang dihasilkan oleh para pembudidaya ikan di waduk Cirata. Sementara harga ikan mas berukuran 2 ekor per kg mencapai Rp 12.500 per kg, masih lebih mahal dari harga ikan mas keluaran Cirata. Tapi, meski harganya lebih tinggi, ikan mas jenis ini tetap dicari karena memiliki beberapa keunggulan. Komoditas ikan mas budidaya di kolam air deras?biasa disebut running water?biasanya mampu hasilkan ikan dengan ukuran beragam, mulai dari ukuran rata-rata untuk konsumsi yaitu 2 ekor per kg-nya, hingga 7 kg per ekor, tergantung permintaan. Sementara ikan hasil waduk cenderung berukuran seragam. Selain untuk mengisi tempat-tempat pemancingan, ikan-ikan mas dengan ukuran cukup besar ini juga dipasarkan ke restoran-restoran. Lebih dari itu, ikan mas jumbo ini biasa terlihat di meja hidangan acara-acara resepsi dan pesta.

Lebih Gurih dan Kenyal Sutrisno, pembudidaya ikan mas running water di desa yang sama saat ditemui TROBOS mengatakan, dibandingkan dengan ikan mas produksi waduk Cirata, taste ikan mas running water ini memiliki rasa lebih gurih dan lebih kenyal. ?Dagingnya jauh lebih ?keras? dan lebih gurih dari ikan Cirata. Ini bisa terjadi dikarenakan ikan di running water selalu bergerak untuk melawan arus yang cukup deras. Sehingga otot-otot dagingnya jauh lebih keras,? ujarnya berargumen. Selain itu, bentuk ikan mas running water ini juga berbeda dengan ikan mas dari Cirata. ?Ikan mas running memiliki bentuk tubuh cenderung panjang, sedangkan ikan Cirata bentuknya lebih bulat dan pendek,? tambah pria yang biasa dipanggil Trisno ini. Lebih lanjut ia menjelaskan, ikan yang berasal dari running water mempunyai daya tahan tubuh yang lebih kuat, terutama pada saat berada di penampungan. Ikan mas ini mampu bertahan lebih dari 1 minggu, sepanjang tetap memakai aerator. ?Ikan mas asal Cirata paling banter hanya bertahan 2-3 hari,? sebutnya. Itu sebab ikan mas running water sangat diminati para pemilik restoran yang menyediakan ikan segar siap tangkap bagi para konsumennya.  

Telur Bebek Rangsang Pemijahan Untuk pemijahan pada budidaya ikan mas running water, induk yang baik harus memiliki berat badan di atas 3 kg per ekor. Dan harus diingat, induk bukan diambil dari running water ! Melainkan yang dipelihara di kolam tergenang. ?Bentuk tubuh yang ideal bagi induk adalah panjang dan dipelihara di kolam tergenang serta diberi pakan alami yang berupa daun-daunan dan keong mas,? terang Trisno. Pensiunan Pertamina divisi penyaluran dalam negeri ini menambahkan, setelah induk disiapkan kemudian diletakkan di dalam jaring harpa berukuran 2 m x 4 m di dalam kolam dengan perbandingan 1 induk betina dan 3 induk jantan. Tidak lupa di dalam harpa tersebut telah diletakkan ijuk-ijuk yang telah diapit dengan bambu sebagai sarana menempel telur. ?Induk kita masukkan di harpa pada siang hari, dan malamnya kita berikan 1 butir telur bebek agar air di sekitar harpa berbau amis. Tujuannya untuk merangsang ikan cepat memijah. Biasanya, keesokan pagi telur-telur sudah menempel pada ijuk,? tutur Trisno. Pasca pemijahan selesai, induk dipindahkan ke kolam lain untuk pemeliharaan selama 3 bulan, hingga siap dipijahkan kembali.
 
FCR Berbanding Terbalik Ukuran
Setelah induk diangkat, ijuk yang penuh dengan telur dikeluarkan untuk dijemur selama 5 menit sambil membereskan harpa agar rapi kembali. Selanjutnya ijuk dimasukkan ke dalam harpa dengan ditenggelamkan sedalam 10 cm di bawah permukaan air. ?Tiga hari berikutnya telur akan menetas dan ijuk kita angkat dari harpa. Tiga hari pasca menetas, larva diberi vitamin B sebanyak 1 cc pada hari pertama, 2 cc di hari kedua dan 2 cc lagi di hari ketiga. Tujuannya, meningkatkan daya tahan larva,? kata Trisno. Selanjutnya larva-larva itu masih tetap berada di harpa selama 4 minggu. Lewat masa itu, harpa dilepas dan ikan-ikan langsung menyebar di kolam. ?Keuntungan menggunakan kolam yang sama untuk pemijahan dan pemeliharaan larva, kita tidak perlu memindahkan larva lagi. Selain itu larva tidak perlu beradaptasi lagi karena airnya sama, paling hanya dibatasi jaring harpa saja,? Trisno menjabarkan. Dalam kesempatan berbeda, Ijam menjelaskan untuk mendapatkan ikan mas dengan ukuran 10 ekor per kg dibutuhkan waktu 40 hari sejak telur menetas. ?Ukuran tersebut ukuran minimal ikan mas masuk ke running water. Setelah 3 bulan di running ikan berukuran 2 ekor per kg, dan ikan akan butuh waktu 3 bulan lagi untuk mencapai ukuran 1 kg per ekor,? katanya. Sedangkan untuk mencapai ukuran di atas 4 kg biasanya dibutuhkan waktu 8 bulan dari ukuran 1 kg per ekor. ?FCR biasanya berkisar 50%-65%. Tetapi, makin besar ikan, FCR akan semakin menurun,? tambah Ijam. Ramuan Tradisional Sementara itu, untuk meningkatkan nafsu makan ikan, Trisno menggunakan ramuan tradisional. ?Saya gunakan ramuan tradisional yang terdiri atas daun mengkudu, daun ketepeng, daun kentut bau dan daun tai lotok. Semuanya dihaluskan dan ditambahkan garam, lalu dicampurkan dalam pakan ikan,? ujarnya. Selengkapnya baca di Majalah TROBOS Edisi Maret 2007
Bookmark and Share

Nila Merah Semakin Bergairah

Majalah Trobos......Dalam sehari tak kurang dari 150 ton ikan nila merah masuk ke pasar Jakarta dan Bandung. Angka itu belum termasuk suplai untuk restoran-restoran di sepanjang jalur Puncak, Bogor. Pangsa pasarnya yang besar menyebabkan ikan dengan nama latin Oreochromis sp ini semakin digandrungi para pembudidaya. Tak hanya itu, bagi para mantan pembudidaya ikan mas kolam air deras di daerah Subang-Jawa Barat, nila merah dianggap sebagai ?dewa penolong?, lepas hancurnya kejayaan ikan mas akibat hantaman wabah KHV (Koi Herpes Virus). Pasca wabah, sebagian besar kolam air deras di Subang terbengkalai.
Para pemiliknya tak mau lagi memelihara ikan mas. Tapi kini lain cerita, budidaya di kolam-kolam itu telah bergairah kembali. Emma Dolly Raphen, Marketing Commercial Fish khusus ikan nila PT CP Prima menuturkan, dalam waktu 3 tahun pasca serangan KHV, sudah lebih dari 200 kolam air deras beroperasi kembali dengan budidaya ikan nila merah. Bisnis budidaya ini telah melibatkan tak kurang dari 40 orang pembudidaya. Imej Hampir Sama Gurame Penampilan fisiknya selintas mirip dengan ikan kakap merah. Menjadi sebab ia dipilih sebagai favorit para penikmat seafood, terutama di restoran-restoran elit kalangan menengah-atas.
Rasanya khas, membuat ia enak diolah dengan cara apapun. ?Imejnya sudah hampir sama dengan ikan gurame,? ujar Mamat Slamet, Deputy General Manager PT CP Prima. Satu yang menjadi kelebihan ikan nila merah jika dibandingkan dengan ikan gurame adalah harganya relatif lebih murah, sehingga lebih terjangkau oleh semua kalangan. Jadi tak heran, jika belakangan ikan yang mempunyai nama dagang tilapia ini juga semakin banyak ditawarkan di pasar-pasar swalayan. Di pasar-pasar modern itu, ikan nila merah biasa diperdagangkan dengan kisaran harga Rp 16.000 ? Rp 17.000 per kg, jauh di bawah harga ikan gurame yang lebih dari Rp 20.000/kg. Menurut Mamat, produktivitas ikan nila merah ini juga lebih tinggi dari ikan gurame, waktu pemeliharaannya jauh lebih singkat.
Selain itu, budidaya ikan nila merah ini juga relatif lebih aman, karena hampir tak ada penyakit yang dapat berujung pada kematian masal. Kolam Air Deras Lebih Unggul Sebenarnya, selain di kolam air deras, ikan jenis ini dibudidayakan juga di waduk-waduk. Tapi, menurut keterangan Emma, ikan nila merah yang dibudidayakan di kolam air deras memiliki lebih banyak keunggulan dibandingkan dengan ikan nila merah hasil budidaya di waduk atau kolam tergenang. ?Ukurannya lebih besar, daging lebih kenyal dan enggak bau lumpur,? jelas Emma. Karena kelebihannya tersebut, ikan nila merah asal Subang ini lebih banyak merambah pasar-pasar swalayan dan restoran-restoran di Jakarta dan Bandung. ?Biasanya dikirim dalam keadaan hidup,? imbuh Emma. Soal harga, Mamat mengakui, ikan nila merah asal kolam air deras masih lebih mahal dibandingkan ikan nila merah asal waduk. ?Beda harga bisa sampai 15%,? ujar Mamat sambil menyebut harga nila merah kolam air deras di level pembudidaya saat ini mencapai Rp 11.000/kg. Ini karena ikan-ikan nila merah asal waduk dibudidayakan pada jaring lapis kedua (jaring kolor) yang tidak diberi pakan secara intensif, sehingga biaya produksinya rendah. Tetapi meski mahal, karena kelebihannya, ikan nila merah asal kolam air deras tetap diminati para penggemar ikan. Permintaan Ekspor Terus Meningkat Tak hanya laku di pasar lokal, permintaan ikan nila merah ini juga terus meningkat di pasar internasional, terutama pasar Amerika dan Uni Eropa (UE). Menurut Aries Madethen, Regional-Technical Marketing Manager PT Schering Plough, warna daging yang putih menjadi nilai lebih dari ikan nila merah. Pasalnya, kebanyakan orang kulit putih lebih menyukai jenis ikan yang mempunyai daging berwarna putih dari pada daging yang berwarna merah. ?Sebenarnya ini hanya masalah selera, tetapi ini bisa kita manfaatkan. Vietnam sudah memanfaatkannya dengan mengekspor patin jambal (berdaging putih) ke Amerika?. Menurut Iskandar Ismanadji, Direktur Produksi Ditjen Perikanan Budidaya-DKP, tampilan fisik ikan nila merah yang mirip ikan kakap merah juga menjadi nilai lebih untuk merambah ke pasar ekspor. Keadaan semakin menguntungkan dengan terus menurunnya hasil tangkapan ikan kakap merah. ?Makanya pamor nila merah juga semakin naik,? ujar Iskandar. Tak heran, jika serapan nila merah baik lokal maupun mancanegara terus meningkat. Berdasarkan data yang dirilis oleh National Marine Fisheries Service, selama 2006, Amerika telah mengimpor 60.772 ton ikan nila yang didatangkan dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Nila yang masuk ke Amerika ini sebagian besar berupa fillet beku. Iskandar memprediksi, permintaan pasar Amerika terhadap ikan nila ini akan terus meningkat tiap tahunnya. Sementara di pasar UE, tak kurang dari 10.000 ton ikan nila terserap tiap tahun. Harga ikan nila merah ini pun cukup menjanjikan bagi para eksportir. Menurut Aries, harga 1 kg fillet nila merah di pasar Amerika bisa mencapai US$ 4,5. Harga bisa bertambah 30-40%, jika para eksportir bisa menjual produknya ke pasar UE. ?Harga di pasar UE memang lebih bagus, tetapi permintaanya tak sekuat pasar Amerika,? tandas Aries. Ekspor Terbesar dari Toba Saat ini, pengekspor nila terbesar asal Indonesia adalah PT Aquafarm Nusantara, yang menjalankan bisnisnya di Danau Toba, Sumatra Utara. Menurut keterangan Yoseph Siswanto, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumut, sepanjang 2006, PT Aquafarm telah mengekspor tak kurang dari 24.000 ton ikan nila ke berbagai negara, terutama Amerika dan UE. Menurut Yoseph, saat ini PT Aquafarm telah memiliki 1.780 keramba jaring apung (KJA) dengan produksi di 2006 mencapai 19.200 ton. ?Kekurangannya mereka mengambil dari KJA yang dikelola masyarakat,? ujarnya lewat ponsel. Sayangnya, pihak Aquafarm enggan merespon saat TROBOS mencoba meminta keterangan melalui Freek Huskens, pimpinan di perusahaan tersebut. Sebagai salah satu sentra penghasil ikan nila, menurut Yoseph, di danau Toba telah beroperasi 5.232 KJA dengan besaran produksi 2006 mencapai 44.759 ton dengan nilai Rp 450 miliar. Sementara itu, pangsa pasar ikan nila merah di pasar internasional juga hampir dirasakan para pembudidaya kolam air deras di Subang. Sayang, penawaran harga yang ditawarkan oleh pihak cold storage (selaku eksportir) masih jauh dari harapan. ?Pihak cold storage hanya berani membeli dengan harga Rp 9.500/kg. Padahal itu baru angka BEP, jadi terpaksa dibatalkan,? Emma menjelaskan. Selengkapnya Silahkan Baca Majalah TROBOS edisi 101/Februari 2008 Bookmark and Share

Belajar dari Sejarah dan Pengalaman Pahit

“ A lesson is repeated until learned. – Pembelajaran akan terus berlangsung sampai kita dapat memetik hikmahnya.” Anonym Setiap saat dan s...

Followers